Hidup adalah Perjuangan. Berjuanglah sesuai dengan kamampuan yang Tuhan berikan kepada Kita
yu

9.13.2009

Garuk waktu, Cungkil trauma

Oleh Kristian Madai

Hari terus berubah, tahun pun berganti ... banyak fenomena datang dan pergi dengan meninggalkan jejak sadis dengan segala teror dan horornya di dalam ingatan penderitaan orang asli Papua. Kenangan pahit yang tak terlupakan terus menghantui mereka, ketika berhadapan dengan realitas yang mengukirkan ratap tangis karena sanak saudara yang dibantai habis. Kenangan ini mengingatkan mereka pada pengalaman pahit di masa silam di mana tekanan militer membuat warga menjadi panik dan ketakutan. Mereka datang menculik, memerkosa, membunuh, dan menindas orang asli Papua sesuka hati.

”Ini benar terjadi anak” kata seorang kakek yang lagi berbaring di pinggiran perapian sambil menceritakan kisah penindasan militer di zamannya. Sambil membayangkan semua peristiwa ia bercerita ”orang Indonesia itu kami tidak pernah minta mereka datang, mereka sendiri yang datang. Mereka ambil tanah sembarang baru mereka bangun rumah. Saya heran mereka tidak merasa malu kalau tanah itu mereka curi. Sudah jadi pencuri tapi mereka belum puas. Mereka juga ingin bunuh orang. Kalian punya saudara-saudara itu banyak yang mereka bunuh. Saya heran !!! saya pun bertanya : ini manusia yang datang kah, setan yang datang ? kalau manusia pasti mengasihi sesama, tapi mereka tidak ada perasaan ... mungkin mereka binatang.” kakek itu terus bercerita sampai cucunya tertidur di atas pangkuannya. Ia lalu memperhatikan cucunya dan berkata ”anak kalian harus tahu sejarah. Semua yang terjadi sekarang ini bukan terjadi begitu saja. Semua yang terjadi sekarang juga bukan salah kami sebagai orang tua. Kami tidak tahu kenapa semua ini terjadi. Anak saya akan selalu berdoa, agar kalian kelak bahagia. Semoga kalian semakin jeli dan bisa memahami fenomena dan realita yang terjadi di dalam ruang dan waktu. Kalian selalu ada di dalam tangisan dan doaku.” setelah itu ia membaringkan cucunya, lalu berjalan keluar rumah.

di halaman depan rumahnya, ia berjumpa dengan seorang sahabat lama. Mereka berdua duduk sambil menceritakan semua fenomena yang terjadi. ”Sobat” sapa temannya ”akhir-akhir ini saya dengar militer banyak di Freeport itu kenapa? Saya dengar juga ada penembakkan di sana. terus kamu sendiri sudah dengar kah tidak ?” tanya temannya. Lalu kakek Jimi mulai bercerita ”Saya juga gelisah kawan, ketika dengar berita ini. Saya sendiri susah tidur, saya masih ingat peristiwa yang dulu-dulu itu. Saya sendiri jadi bingung mengapa mereka selalu memanaskan situasi. Saya kasihan kita punya anak-anak dan saudara-saudara yang selalu hidup dalam dekapan trauma. Mereka tidak salah tapi mereka dituduh sebagai pelaku. Dan kalau sudah dituduh sebagai tersangka, itu artinya mereka harus berada di dalam bui selama 25 – 50 tahun. Saya sering berpikir kalau begitu separuh hidup kita tidak bebas. Lalu apa gunanya alam yang luas ini, sungai-sungai yang indah, laut yang begitu kaya, gunung-gunung yang menjulang tinggi, hutan tempat kita berburuh, dan semua yang Tuhan beri untuk kita? Kita seperti ayam yang mati di atas tumpukan beras. Mereka datang bodohi kami, juga membunuh kami satu per satu supaya semua itu mereka bisa kuasai. Mereka pintar menciptakan masalah, lalu menuduh kami sebagai dalangnya. Buktinya Freeport. Ini bukti sobat.”

Temannya hanya terdiam dengan pandangan matanya yang menerawang ke angkasa. Mereka berdua larut dalam keheningan. ”oh ... Tuhan !!” sahut temannya. Ia kemudian memegang pundak sahabatnya dan berkata ”kawan ....!!! ini kenyataan bukan mimpi. Ini bukan pelajaran di sekolan atau di kampus. Ini kenyataan sobat. Mereka di belahan dunia lain hidup enak. Mereka bisa menikmati kehidupan yang layak. Mereka bisa bersekolah sampai tinggi-tinggi, mempunyai pekerjaan yang layak, dan kesehatan yang baik. Lalu kita ini siapa ? apakah kita-kita ini bukan manusia, sehingga selalu diperlakukan kasar dan diberi stigma yang negatif ?” Kemudian kakek Jimi mulai berkomentar ”kawan ini bukan nasib. Ini bukan musibah yang Tuhan beri. Ini pekerjaannya iblis. Indonesia itu iblis. Kami tidak pernah merasa diri sebagai orang Indonesia. Mereka saja yang merasa begitu dan memaksa kami untuk menjadi Indonesia. Mereka memaksa kami karena kami mempunyai kekayaan alam yang subur dan kaya raya. Mereka dan negara-negara kapitalis lainnya hanya menginginkan kekayaan alam Papua, sedangkan manusianya tidak mereka perhatikan. Untuk Freeport mereka bekerja sama dengan 26 negara yang menanamkan sahamnya, dan di bantu 150 perusahaan pendukung dari luar negeri. Dulu ada 27 negara, tapi negara Norwegia tidak bergabung lagi. Dia keluar dengan mencabut sahamnya sebesar 260 Triliun rupiah. Bayangkan kawan uang sebesar itu ..!!” kawannya terheran-heran. Ia tidak percaya kalau ada negara lain dan perusahaan asing terlibat di dalamnya. ”sobat ....!!!” sahut temannya ”saya tidak percaya kalau freeport itu rupanya perusahaan besar ..!! dulu saya tidak tahu, tapi sekarang saya sedikit tahu.”

Kakek Jimi pun melanjutkan ceritanya ”benar sobat .... Freeport itu perusahaan besar. Akar masalah Papua adalah Freeport. Karena Freeport orang banyak jadi korban. Militer menjaga Freeport seperti anjing kapitalis. Mereka pintar mencari uang, dan mendehumanisasikan orang Papua. Cara mereka cari uang yaitu dengan buat kasus di Freeport, seperti yang terjadi sekarang ini. Mereka membunuh sesamanya termasuk orang bule, lalu menuduh orang Papua yang buat. Tujuan mereka yaitu agar orang Papua disalahkan dan dianggap sebagai pengacau keamanan. Untuk membuktikan itu mereka menangkap orang sembarang, lalu menuduhnya sebagai tersangka. Mereka pun berkerja sama dengan media massa untuk menyebarluaskan informasi. Jadi, Papua itu Militer punya tempat main-main. Indonesia senang mempermaikan Papua.”

Mereka terus bercerita mengenai Freeport. Tiba-tiba mereka terkejut mendengar teriakan suara ”kakek Jimi .... kakek Jimi .... lihat matahari sudah terbit !!!” cucunya berteriak sambil menunjuk sang Bintang Fajar yang sedang merekah di ufuk timur. Mereka bertiga berdiri sambil menikmati indahnya mentari pagi.

9.12.2009

Jangan Mati Bersama Musik Anda

Hanya ada satu kehidupan
bagi kita masing-masing
hidup kita sendiri —Euripides


Seorang musisi harus menciptakan musik, seorang seniman harus melukis, seorang penyair harus menulis, jika ia ingin merasa damai dengan dirinya sendiri. Apa yang seseorang bisa lakukan, harus ia lakukan. —Abraham Maslow



Saat ini Anda tinggal di dunia yang seluruh sistem serta elemennya digerakkan oleh satu dengan yang lainnya. Masing-masing bagian di dalam dunia ini tidak bisa hidup sendiri, semua saling bergantung satu dengan yang lainnya.

At top of that ada Daya yang sungguh luar biasa yang mengatur semuanya, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia menjalankan semua elemen itu dengan seimbang dan sangat sempurna.

Perlu Anda ketahui juga bahwa, Anda dan kita semua adalah bagian sistem yang bergerak itu. Anda merasa bahwa Anda adalah sistem yang paling penting dari seluruh yang ada di jagad raya ini. Sebetulnya tidak.

Anda muncul di dunia juga adalah bagian dari proses sistem yang sangat rumit itu. Tepat waktu, pada tempat yang sesuai dan dengan cara yang sudah ditentukan dengan benar oleh Dia Yang Maha Kuasa.So what? Saya ingin mengajak kepada Anda bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak pas. Mungkin Anda merasa bahwa pekerjaan, keluarga, isteri, anak dan suasana yang Anda jalani tidak pas menurut logis Anda. Tapi tidak kawan, semua itu sudah terdetailkan oleh sistem rumit itu. Dan tidak ada yang luput dari perhatiannya.

Semua yang dari awal hingga akhir nanti semuanya sudah didesain sedemikian rupa sehingga selaras dengan jalannya sistem detail yang lain.

Semua telah selaras, tepat dan sudah dapat dipastikan semuanya sesuai dengan hukum kemauan-Nya. Tinggal tugas Anda lah saat ini untuk memainkan peran Anda dengan optimal mungkin. Jangan sia-siakan peranan Anda itu.

Sehingga, menyesali apapun yang terjadi di Anda atau sekeliling Anda tidaklah ada artinya sama sekali.



3.11.2009

BAIT – BAIT PUISI

Melodi Cinta

Awal hari itu
Wajahmu begitu erat dibenahku
Gerakan jeramimu seperti memainkan
Melodi yang indah buatku

Aku….
Sangat terpesona
Saat kita bertemu di bangku SMA
Namun rinduku selalu mengebu
Untuk membiaskan isi hatiku

Kadangkala seruanku
Melewati rintangan dan godaan
Tak apalah isi hatiku
Bisa biaskan melalui gelombang suara

Setiap waktu aku berfikir
Setiap malam aku merenung
Akan arti cinta sejati yang engkau
Berikan padaku
Kaulah wanita sejatiku ( for You Mer.M )


Jeritan Hati

Malam semakin mencekam
Awan hitam enggang berderat
Seakan turut menangis
Betapa kelabunya nasib negeriku
Hanya sepotong doa terucap

Tuhan berikanlah kekuatan bagiku
Untuk tabah menghadapi cobaan ini
Penculikan, pembunuhan, korupsi, dan manipulasi
Seakan menjadi hal yang wajar di tanah kami
Hukumnya sebuah permainan biasa

Dimanaka keadilan yang kami dambahkan
Dunia segang menutupi mata telinga
Kemana ka mencari keadilan yang hakiki
Adakah orang yang murah hati
untuk mengerti hal ini
Namun semuanya khayalan belaka
Aku ingin bebas bersama ras Melanesia


1.16.2009

Keutuhan Diri Manusia Papua

Oleh : Kristianus Delgion Madai

Aku berdiam di tengah belantara
Aku tidak melarikan diri
Aku hanya tak suka ketika aku dilihat sebagai binatang
Aku tak mau manusia menentukan hidup – mati ku
Aku sungguh menghargai diriku
Aku tahu bahwa aku manusia yang mempunyai “jati diri”
Jati – Diriku terukir indah di atas tanah leluhurku
Harapanku :
Biarkanlah aku menjadi dan menentukan
Bahkan dengan kehendak bebas yang ada padaku
Biarkanlah aku menetapkan siapa diriku sendiri
_ Kristianus Delgion Madai_

Kehidupan manusia Papua menyatuh utuh dengan Tanah Leluhurnya. Di atas Tanah Leluhurnya ia dapat berpikir dengan tenang, dan merancang masa depannya untuk hidup. Di atas Tanah Leluhurnya ia bergerak. Gerak itu terus mengalir dan menghantarnya menemukan berbagai potensi yang terpendam di dasar budi dan nuraninya. Gerak itu membawa ia pada sebuah permenungan dan refleksi yang mendalam terhadap berbagai fenomena alam sekitar, sosial-kemasyarakatan, hubungan baik Roh Pelindungnya, dan juga terhadap keutuhan dirinya sendiri. Ia merasa aku sebagai bagian dari semesta Papua yang dihargai dan dilindungi bunda pertiwi yang terus membimbing dan memperkelkan aku tentang “dunia”. Di atas Tanah Leluhur inilah jati-diri manusia Papua itu terukir indah.

Di atas tanah leluhurnya ia semakin memahami dan menyadari totalitas hidup yang kesemuanya itu membentuk keutuhan jati dirinya. Hidup itu menjadi penuh karena keutuhan hidup itu dilihat secara luas dan mendalam terhadap realitas yang ada disekelilingnya. Realitas di sini nyata di dalam kehidupan alam, sesama, dan realasi intim manusia Papua dengan roh pelindungnya. Jadi, jati diri manusia Papua semakin nampak ketika ia menyadari dirinya di hadapan alam semesta, sesama, dan roh pelindungnya.

Alam merupakan jantung kehidupan manusia Papua. Manusia Papua berelasi dengan alam seperti berelasi dengan dirinya sendiri. Semua yang menjadi hidup pada dirinya bersumber dari alam. Alam menyediakan beribu-ribu tanda yang memampukan dia untuk merefleksikan tiap fenomena demi “kehidupan baik” yang menjadi idamannya. “Kehidupan Baik” merupakan suatu motivasi manusia Papua dalam memaknai hidup secara utuh dan penuh. Ia mencoba menjaga keseimbangan dan keharmonisan hidupnya melalui kontak dengan alam. Untuk mencapai hidup baik itu, maka manusia harus bergerak. Mengapa harus bergerak? Karena yang tidak bergerak adalah mati. Jika mati maka, kata orang Kristen “biarkanlah orang mati menguburkan orang mati”. Terlepas dari pandangan Kristen, orang Papua menyadari bahwa hidup ini harus digerakkan. Gerak dari hidup itu nampak ketika manusia Papua berkontak dengan alamnya.

Apa itu kontak dengan alam? Kontak dengan alam yaitu menggabungkan seluruh keutuhan totalitas jiwa dalam sebuah relasi intim antara manusia dan alam. Dalam rutinitas kerja harian, manusia Papua menyatu dan masuk dalam kerja yang dilakukannya. Ia meresapi tiap kegiatannya secera penuh dan mendalam. Semua yang ada padanya diwujud-nyatakan melalu tindakan interaksi. Ia membutuhkan alam dengan segala potensi yang ada padanya, sebaliknya alam menyediakan berbagai kebutuhan yang dibutuhkan manusia Papua. Relasi timbal balik ini ada begitu saja dan tak terbantahkan karena manusia Papua menyadari bahwa sesuatu yang menjadi kekurangannya akan diper-lengkapi oleh alam. Menyadari akan kekurangannya, manusia Papua mengagungkan alam sebagai MAMA yang memberi, MAMA yang memelihara, MAMA yang melindungi, dan MAMA yang ....seterusnya. Berbagai penghargaan diberikan kepada alam dalam bentuk ungkapan pujian sesuai dengan konteks pergumulannya. Manusia Papua menyadari bahwa ia lemah dan tidak mampu seorang diri menjalani kehidupan ini. Untuk itulah ia bergandengan bersama alam sebagai sumber dan mewujudkan seluruh impiannya.

Mengatakan Papua bagi manusia Papua sama dengan mengatakan diri manusia Papua, alam, sesama dan roh pelindungnya. mengapa? Karena ketiganya itu satu dan tak terpisahkan. Orang tidak bisa hanya mencintai alamnya saja dan membenci manusia Papua. Atau, mencoba membunuh manusia Papua dengan berbagai cara untuk menguasai alam Papua. Karena mengusai alam tanpa melibatkan manusia Papua sama dengan mengurangi harga diri dari Papua itu sendiri. Siapa itu manusia Papua? Manusia Papua adalah manusia yang mendiami bumi Papua yang seutuh darah dan jiwa menyatu dengan alam, ikatan dengan sesama berdasarkan aliran darah, dan yang menyatu dengan roh pelindungnya. Kesatuannya dengan alam kan dipertahankan meskipun ia berada di tanah perantauan atau dilahirkan di luar tanah leluhurnya. Ingatan akan tanah leluhurnya akan terus diulangi dan berkumandang di dalam sanubarinya. Ia kan semakin hidup ketika kembali (mengadakan perjalanan suci) ke tanah leluhurnya. Ketika kembali ke tanah leluhurnya ada beberapa ritus suci yang harus di lakukan. Hal ini penting agar ia bersatu dengan alam, sesama, dan roh pelindungnya. Tanah leluhur akan terus memanggilnya. Tanah leluhur akan terus merangkulnya untuk selalu dekat dan berada dalam belaian kasih sayangnya. Itulah sebabnya manusia Papua selalu memanggil tanah Leluhur sebagai MAMA yang memberi hidup dan harapan baru untuk menatap masa depan.

12.14.2008

PAPUA MEMBUTUHKAN SDM YANG HANDAL

Oleh : Madai

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi mempunyai dampak yang sangat kuat terhadap manajemen sumber daya manusia dan skillnya. Fenomena social masa kini dan masa depan dalam era ini, yang sangat menentukan adalah sumber daya manusia dan skill. Sumber daya manusia dan skill merupakan modal dan kekayaan terpenting dari kegiatan manusia. Manusia sebagai unsur terpenting, mutlak, dianalisis dan di kembangkan dengan cara tersebut, waktu, tenaga, dan kemampuannya, benar – benar dapat di manfaatkan secara optimal bagi kepentingan umum maupun kepentingan individu.

Bangsa melanesia merupakan salah satu propinsi yang terletak di ufuk timur indonesia dengan sumber daya manusia dan skill yang relatif rendah di bahwa standar ketuntasan. namun, sumber daya alam ( SDA ) yang berada dalam perut bumi cenderawasih sangat bervariasi dan beraneka ragam seperti emas, tembaga, perak dll, dan sering di juluki juga sebagai pulau yang terkaya dengan kata lain, dapur Indonesia secara khusus dan dapur Dunia secara umum

Untuk mengolah dapur dunia tersebut bangsa melanesia harus benar – benar mempersiapkan sumber daya manusia ( SDM ) yang mapan dan keterampilan ( SKILL) yang sangat harus berkompoten di dalam bidang yang di tekuni sehingga solusi untuk orang melanesia akan terwujud dan tercapai sesuai keinginan dan kemauan bangsa Melanesia itu sendiri. Namun untuk mewujudkan impian tersebut bangsa melanesia benar – benar punya semangat, motivasi, dan keinginan yang tinggi terhadap perkembangan yang sementara merajalelah di muka bumi baik dalam bidang yang tekuni maupun yang bukan merupakan bidangnya.

Dalam era global ini orang melanesia harus pintar – pintar mencari solusi untuk mempersiapkan sumber daya manusia ( SDM ) dan keterampilan ( SKILL) yang berorientasi ke masa yang akan datang supaya kedepannya agar orang melanesia sendiri yang intervensi di alam cenderawasih.
Untuk mengolah sumber daya alam ( SDA ) tersebut dalam lingkungan hidup orang melanesia harus menciptakan interaksi yang baik dan berkesenambungan sehingga di antara kita sendiri ( orang papua ) akan selalu keseimbangan. Keseimbangan demikian boleh akan tergantung pada kerja sama dari semua lapisan bangsa melenesia baik itu lembaga pemerintahan, swasta, maupun lembaga dari kemasyarakatan artinya jika ada intervensi dari pihak – pihak yang berwewenang maka sumber daya alam akan di olah secara benar sehingga hasilnya akan merata sampai ke kalangan masyarakat yang jelata dan tertindas.

Menurut kepahaman orang non – papua, negeri melanesia adalah negeri yang kaya dan beraneka ragam sumber daya alam ( SDA ) yang di miliki oleh orang melanesia, namun hal tentang Negeri yang kaya yang di ungkapkan oleh non - Papua tersebut, untuk kepribadian manusia papua sebagai anak kaum kulit hitam dan rambut keriting dari bangsa melanesia, tidak ditanggapi dengan serius, karena sumber daya alam yang di nikmati adalah orang – orang non – Papua dan orang – orang melanesia yang bersifat elit politik sehingga adanya sumber daya alam di papua tidak dirasakan oleh masyarakat yang berdomisili di dusun – dusun dan kampung – kampung.

Peran Kaum Intelek Dalam Perkembangan Bangsa Melanesia

Dengan berkembangnya zaman – zaman yang modern, maka di tinjau belahan dunia yang berkembang saat ini, baik itu negara maju maupun negara berkembang pada prinsipnya mereka persiapkan sumber daya manusia dan ketrampilan yang mapan sehingga untuk pengelolahan tidak di libatkan orang – orang dari negara lain.

Untuk membangun negeri melanesia, kaum intelek yang merasa terpanggil benar – benar harus mempersiapkan sumber daya manusia dan skillnya dalam bidang yang di miliki dan di tekuni saat perkuliahan atau kursus, sehingga ketika anda ( kaum Intelek ) turun lapangan ( TURLAP) menjadi orang yang berkompoten dan bisa mengaplikasikan di kalangan masyarakat melanesia.
Akhirnya sebagai kaum intelektual, marilah kita tekuni prospek belajar kita semoga apa yang kita tekuni menjadi dasar ilmu bagi kita secara khusus, dan dasar ilmu bagi bangsa melanesia secara umum, sehingga anda ( kaum intelek) yang mengubah dan mengolah bumi cenderawasih untuk generasi yang mendatang.




11.04.2008

EKOLOGI PAPUA

Oleh Madai*


Hallo......!!!! teman – teman...........seperjuangan...... kamu tauh nggak sementara yang menjadi isu terbesar di dunia dan secara khusus Di indonesia lebih spesifik lagi di papua.......masalah yang sangat serius di hadapi di belahan dunia kadang kala kita anggap sebuah fenomena yang begitu saja lewat di hadapan mata manusia namun jangan terlalu repot – repot untuk membacanya, karena apa....???? ada dehh.......ini jurusanku.....yang saya mencoba untuk menuangkannya, tapi ingat eh.....jika ada yang kurang beres tolong yaa, komentar saya......makasi atas komenmu...... aku tunggu yaaa......!!!

Dalam perkembangan era – globalisasi, salah satu isu global yang sangat penting dan mendapat perhatian serius adalah masalah lingkungan ( environmental problems). Masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan pemerintah baik daerah yang maju maupun yang sedang berkembang telah dan terus memberikan perhatian terhadap masalah lingkunganan bahkan dunia atau negara –negara yang sedang berkembang pun memberikan perhatian yang serius terhadap masalah ekosistem . Disadari bahwa pengelolaan sumber daya alam ( natural resources ) yang berorientasi pada ekonomi tidak saja membawa efek positif, tetapi juga dampak negatif bagi umat manusia.

Bolongnya lapisan ozon dan peningkatan panas global,( global warming ) menyebabkan perubahan iklim ( climate change ) merupakan contoh nyata dampak pengelolaan lingkungan yang ekploratif untuk mencapai pertumbuhan ekonomi,( economic growth ) yang setingginya. Belajar dari pengalaman masa lalu dan fakta yang ada saat ini, maka baik negara maju maupun negara berkembang pada tahun 1987 melalui world commission on environment and development (brundtland commission) dalam bukunya Our Common Future mencoba memperkenalkan konsep pembangunan yang disebutnya pembangunan berkelanjutan (sustainable development ) yaitu suatu pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk mencukupi kebutuhan mereka (Mitchell, Setiawan & Hadi., 2000).

Konsep ini mengamanatkan agar dalam pelaksanaan pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat di negara masing-masing tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata tapi juga secara sadar dan rasional benar-benar memperhatikan kelestarian lingkungan ekosistem serta tetap memperhatikan kebutuhan sekarang dan generasi yang akan datang.

Kondisi pembangunan kota yang sangat cepat proses perkembangannya, sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi (manusia) akibat urbanisasi, terutama pada kawasan Indonesia pada umumnya dan Propinsi Papua pada khususnya yang di pacu oleh pembangunan fisik sarana dan prasarana kota yang merupakan daya tarik sekaligus daya dorong bagi para warga yang ingin memperoleh peluang kehidupan lebih baik. Peningkatan jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan membawa implikasi yang sangat besar bagi perkembangan dan penataan kota sehingga para perencana konsisten untuk mengelolah dan mengembangkan ekosistem dalam penataan ruang perkotaan tanpa merusak tumbuhan di sekitar kita dalam arti melindungi dan menjaga biotic maupun abiotik .

Pelestarian dan pegembangan ekosistem dalam penataan ruang perkotaan secara sinergi dari berbagai pihak baik itu dari pihak negeri, swasta, maupun masyarakat, sehingga menimbulkan suatu satu - kesatuan yang bisa meningkatkan kerja sama yang baik antara pihak – pihak tersebut sehingga lingkungan sekitar kita akan terwujud kota yang berwawasan lingkungan hidup. berbagai fasilitas dan ruang terbuka untuk kawasan di perkotaan sangatlah mutlak. Karena semakin banyaknya fasilitas yang disediakan oleh kota akan mempengaruhi banyaknya orang tertarik pada kota tersebut. Pembangunan yang sangat cepat terkadang tidak diimbangi dengan pelestarian dan pengelolahan ekosistem sarana penunjang fasilitas fisik kota. Pengelolahan dan pengembangan ekosistem dalam penataan ruang perkotaan Papua adalah sebuah bentuk kewajiban dari pemerintah daerah untuk masyarakat setempat. Semakin tingginya pertumbuhan penduduk dan aktivitas kota yang semakin banyak dan beragam mengakibatkan permintaan kebutuhan lahan semakin meningkat, sementara itu luasan lahan kota yang tersedia cukup terbatas.

Dengan fakta yang terjadi seperti itu menimbulkan ketidak seimbangan antara ekologi dan degradasi lingkungan kota jika pengelolaan ekosistem tidak mendapat perhatian yang serius. Penyediaan ruang terbuka hijau di Propinsi Papua yang sepadan dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas kota sangatlah penting. Karena akan membentuk lingkungan kota yang sehat, nyaman dan produktif , hal ini akan memberikan rasa nyaman bagi penduduk yang berdomisili di Propinsi Papua untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.

10.31.2008

ALAMKU PAPUA

Oleh Madai*



“Ketika Hutanku yang terakhir di tebang habis.......!!!”
“Ketika tanahku yang terakhir di jual habis.........!!!”
“Ketika sungai & danauku yang terakhir tercemar........!!!”
“Ketika Alamku yang terakhir rusak........!!!”
“Ketika mata airku yang terakhir kering… Kini………!!!! “
tinggallah air mata yang bercucuran di pipi………………!!!! dan generasi yang akan datang akan kemana……..????



Sumber Anonim_madai, oleh pekei titus


Coba kita kajikan, renungkan dan simak secara mendetail hal kecil atau beberapa tulisan kalimat pendek yang terlampir di atas ini, kita sebagai kaum kulit hitam dari ufuk timur Indonesia apa yang kalian rasakan dalam benah anda,??? Secara khusus untuk pribadiku, saya merasa sangat terpukul hati, dan memikul beban yang berat ( jangan kirain klu saya memikul batu gitu loh…), karena dari kalimat ke kalimat mengandung arti yang multidimensi mulai dari perkembangan orang papua yang selalu di bodohi dan tertindas sampai pada environmental problem’s yang mana seenaknya mengambil barang milik orang lain tanpa di ketahui masyarakat local atau masyarakat setempat yang sinergi dengan kaum kapitalis local ( putra daerah papua yang kaki tangannya kaum kulit putih hanya mencari kertas yang lambangnya RUPIAH ).


Secara orisinal papua sementara ( bukan lagi sementara tapi selamanya jika kaum intelek dari papua tidak mengintropeksi diri terhadap alamnya ) yang menjadi ibu dapur beberapa belahan Negara di dunia lagi pula Papualah yang menjamin ekonomi secara makro di wilayah Indonesia. Jika di kajikan berapa besar persent hasil bumi ( sumber daya alam) di jual ke luar negeri dan itupun hanya melengkapi pengaturan ekonomi dalam rumah tangga Indonesia, sehingga masyarakat yang punya hasil di transisikan seakan – akan hasil daerah di jadikan milik umum, boleh – boleh saja di katakan milik umum karena dalam system pemerintahan Indonesia selalu mengikat dengan berbagai macam Undang – Undang yang tiap tahun selalu di revisi.


Untuk melawan arus yang melanda secara global ini papua pada umumnya, dan pada khususnya generasi muda papua harus punya komitmen untuk mencapai solusinya, namun dalam menempuh jalan keluar isu tersebut kita harus persiapkan etika dan moralnya walaupun generasi muda papua punya solusi namun tidak di sertai dengan etika dan moral akan hasil akhirnya mengalir le aliran global yang menyesatkan.


Tiap malam selalu saja ku termenung dalam fikiran. Untuk memikirkan apa yang terjadi pada dua puluh tahun mendatang, apakah ekositem papua akan stabil seperti sekarang waulaupun di ambil oleh orang lain ??? apakah generasi yang akan datang menikmati adanya air, lingkungan yang sehat, udara yang segar dan ekosistem yang beraneka ragam ??? untuk memecahkan hal – hal tersebut kaum mudah harus punya komitmen untuk keluar dari segala penindasan. SALAM KOMPAK


10.24.2008

KEMAJUAN INFRASTRUKTUR DI PAPUA ADAKAH KETERLIBATAN MASYARAKAT…???

Oleh Madai

Otonomi khusus telah hadir dikalangan masyarakat Papua tujuh tahun yang silam, di samping itu melalui arus tersebut telah membawa efek – efek baik dan buruk yang bisa mengakibatkan dampak yang sangat serius dalam kemajuan pengembangan dan pembangunan di lingkungan setempat sehingga arus tersebut mengalir dengan drastis di kalangan masyarakat, Otonomi Khusus bagi Papua harus diartikan secara benar, jelas, dan tegas sejak awal karena telah terbentuk berbagai pemahaman /persepsi yang berbeda-beda bahkan negatif mengenai Otonomi Khusus di kalangan rakyat PapuaPengalaman pahit yang dialami oleh rakyat Papua dalam masa pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru, yang juga memperlakukan daerah Papua sebagai suatu daerah otonomi, telah membuat rakyat Papua sudah tidak percaya lagi terhadap Otonomi Khusus yang ditawarkan oleh Pemerintah RI..

Untuk menjawab pertanyaan yang terterah pada topik di atas kita butuh kajian yang sangat serius, lagi pula perlu melibatkan berbagai bentuk komponen atau melibatkan orang yang berkompoten dalam ilmu yang dia tekuni karena perpekstif ilmu pengetahuan individu sangat berbeda tanggapan dan pemahamannya, mengapa saya tulis melibat dari berbagai elemen, karena dalam ilmu yang saya tekuni ( Planologi ), disana ia membahas berbagai macam bentuk tipologi masyarakat, baik itu dari masyarakat desa swakarya, swadaya, swasembada sampai pada masyarakat perkotaan dan hingga fenomena kehidupan masyarakat di lingkungan perkotaan maupun perdesaan yang mempunyai ciri khas dan karakteristik yang berbeda.

Analisis melalui ilmu yang saya tekuni yaitu planologi ( jangan fikir kalau saya ahli planner gitu loh...) keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pembangunan dalam suatu daerah itu sangat di harapkan tapi realitas kondisi di lapangan, masyarakat di jadikan suatu objek padahal, jika kita analisa keadaan suatu daerah baik topografi, demografi, bahkan daerah erosi yang lebih mengenal adalah masyarakat setempat, lagi pula hal untuk melibatkan masyarakat setempat itu juga telah di atur dalam beberapa buku yang terbitan – terbitan baru salah satu contoh buku adalah Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional ( SPPN ).

Dalam buku SPPN ini telah mengklasifikasikan berdasarkan keterlibatan di suatu bidang dalam penyusunan program kerja. Program kerja yang sering di gunakan dalam menyusun master plan adalah di antaranya pendekatan politik, teknokratik, partisipatif, top - dow dan buttom – up. Dengan memperhatikan pendekatan – pendekatan tersebut maka penulis lebih menguraikan pendekatan partisipatif karena dalam proses ini akan melibatkan komponen – komponen yang berdomisili di kalangan lingkungan setempat. Komponen – komponen yang saya maksud adalah masyarakat yang berdomisili di kawasan tertentu dan melakukan aktivitas sesuai dengan kemauan / kemampuan mereka.

Pendekatan partisipatif adalah di mana dalam penyusunan program kerja ada keterlibatan dari berbagai elemen / komponen, baik itu elemen LSM, masyarakat, dan pemerintah setempat ( baca SPPN ). Nah...dari uraian ini untuk menciptakan suatu daerah yang nyaman, aman, damai dan produktif hingga jadikan daerah yang berkelanjutan butuh intervensi dari elemen - elemen tersebut, namun pantauan saya dalam era – perkembangan ini pemerintah daerah lebih tendensi mengambil keputusan sendiri. Untuk mengambil kesimpulan ini boleh – boleh saja pemerintah daerah melakukan hal - hal seperti itu karena di daerah PEMDA sebagai stakeholders, tapi untuk keterlibatan masyarakat dalam menyusun program kerja merupakan salah satu kerja yang sangat efektif dalam menyukseskan pembangunan yang berkelanjutan menuju kota idaman.